BANDUNG — Aksi unjuk rasa ratusan massa Aliansi LSM dan Ormas Pandawa Lima Jawa Barat di depan Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Senin 12 Januari 2026, berlangsung mencolok dan sarat simbol. Selain orasi politik dan tuntutan evaluasi pejabat, demonstrasi ini juga diwarnai atraksi budaya dan teatrikal yang menyita perhatian publik.

Sejak pagi hari, massa telah berkumpul di pintu gerbang Balai Kota Bandung. Mereka membawa spanduk, poster bernada kritik, serta satu unit mobil komando dengan pengeras suara sangat nyaring. Orasi dilakukan secara bergantian dengan pengawalan ketat aparat kepolisian.

Atraksi Hanoman Tembus Halaman Balai Kota

Suasana aksi memanas ketika dua orang pria berkostum Hanoman Wulung, tokoh kera dalam pewayangan, tiba-tiba keluar dari barisan massa. Dengan kostum dominan putih dan hitam, keduanya memanjat pagar dan berlari masuk ke halaman Balai Kota Bandung, mengarah langsung ke kantor Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.

Tepat di depan pintu kantor Wali Kota, kedua pria berkostum kera itu menggedor-gedor pintu dengan keras. Namun, pintu kantor dalam keadaan terkunci dan dijaga ketat oleh petugas keamanan. Aksi teatrikal tersebut sontak menarik perhatian massa dan aparat.

Dalam aksinya, dua pria tersebut tampak berperilaku seperti kehilangan kesadaran, mengeluarkan suara menyerupai kera, dan menolak kembali ke barisan meski telah diperintahkan oleh koordinator aksi. Setelah dilakukan upaya paksa secara persuasif, keduanya akhirnya berlari kembali dan bergabung dengan massa demonstran.

Simbol Kritik Lewat Seni Tradisional

Aksi ini dinilai unik karena tidak hanya menyampaikan tuntutan secara verbal, tetapi juga melalui simbol budaya Sunda. Selain atraksi Hanoman, sejumlah peserta aksi membawa alat musik tradisional dan melantunkan kawih Sunda, menciptakan suasana demonstrasi yang berbeda dari aksi unjuk rasa pada umumnya.

Koordinator lapangan aksi, Agus Satria dan Mochamad Dadang, menyebutkan bahwa pendekatan budaya sengaja digunakan sebagai bentuk kritik moral dan simbolik terhadap penyelenggaraan pemerintahan.

Sejumlah tokoh lain seperti Iwan Oci, Budi Abuy, dan Iman Sentosa turut menyampaikan orasi. Mereka menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk kontrol sosial masyarakat sipil untuk mendorong transparansi, integritas, dan tata kelola pemerintahan yang baik.

Desak Evaluasi Kadis Disarpus

Dalam orasinya, massa menyoroti pentingnya evaluasi terbuka terhadap Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Bandung. Mereka menilai terdapat indikasi persoalan integritas dan penyalahgunaan wewenang yang perlu diuji secara objektif.

Aliansi Pandawa Lima mendesak agar Inspektorat Kota Bandung atau auditor internal independen segera melakukan pemeriksaan menyeluruh, baik dari sisi etika, kinerja, maupun tata kelola jabatan.

“Aksi ini bukan untuk menghakimi, melainkan mendorong keterbukaan dan penegakan sistem merit dalam jabatan publik,” ujar salah satu orator dari atas mobil komando.

Wali Kota Tak Temui Massa

Hingga aksi berakhir pada sore hari, demonstrasi berlangsung relatif tertib meski sempat membuat arus lalu lintas di sekitar Balai Kota melambat. Aparat kepolisian tetap berjaga di sekitar pintu gerbang untuk menjaga kondusivitas.

Massa berharap dapat bertemu langsung dengan Wali Kota Bandung, namun yang bersangkutan berhalangan hadir. Perwakilan pengunjuk rasa akhirnya hanya ditemui oleh pejabat Kesbangpol Kota Bandung.

Aliansi Pandawa Lima menegaskan akan terus mengawal tuntutan tersebut hingga ada respons resmi dan langkah konkret dari Pemerintah Kota Bandung, sembari menyatakan bahwa aksi budaya dan simbolik akan tetap menjadi bagian dari perjuangan moral mereka.***